Bagaimana Sih Cara Cepat dan Efisien dalam Memahami Kondisi Keuangan Perusahaan??

Laporan keuangan merupakan hal yang penting karena menjadi dasar acuan dalam mengontrol dan mengetahui kondisi keuangan sehingga harus tersaji secara akurat dan kredibel. Kemampuan membaca kondisi keuangan dengan jeli dan memahami nilai-nilai yang muncul dalam laporan keuangan agar nantinya keputusan yang diambil mampu menyelesaikan permasalahan yang ada dan mampu meningkatkan omset perusahaan. Pertanyaannya adalah “Adakah cara yang lebih cepat dan efisien dalam memahami kondisi keuangan perusahaan?.

Dari pertanyaan di atas, ada cara yang paling tepat untuk memahami kondisi keuangan dalam perusahaan, yaitu dengan menggunakan analisis laporan keuangan. Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses untuk membedah laporan keuangan kedalam unsur-unsurnya dan menelaah masing-masing dari unsur tersebut dengan tujuan untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang baik atas laporan keuangan itu sendiri.

Jadi tidak harus membaca secara keseluruhan laporan, cukup menganalisa dan melihat bagian laporan keuangan yang penting-penting saja. Ada beberapa teknik dalam analisis laporan keuangan, namun saya lebih memfokuskan analisis persentase per komponen dimana dalam teknik ini alat yang dipakai adalah rasio keuangan.

Ada beberapa jenis rasio keuangan yang perlu diketahui, diantaranya adalah rasio likuiditas, rasio solvablitas, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas. Berikut penjabarannya:

#1 Rasio Likuiditas

Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancarnya yang segera jatuh tempo. Rasio ini diperlukan untuk mengetahui apakah kas yang ada mampu membayar hutang yang jatuh tempo. Dalam rasio ini akun yang dibandingkan adalah aset lancar dan kewajiban lancar. Ketika aset lancar dan kewajiban lancar dibandingkan, keluarlah nilai.

Nilai ini jika semakin besar, mencerminkan kemampuan aset lancar untuk memenuhi kewajiban lancar semakin baik. Sebaliknya jika nilai yang muncul semakin kecil, mencerminkan kemampuan aset lancar memenuhi kewajiban lancar lebih berisiko. Namun harus dianalisis dulu nilai yang besar dalam aset lancar kas atau akun yang lain.

Perlu diketahui bahwa aset lancar terdiri dari beberapa akun yaitu kas dan setara kas, piutang, dan persediaan. Dalam hal ini dari beberapa komponen aset lancar tersebut sudah dijabarkan menjadi tersendiri yaitu rasio lancar (current ratio), rasio sangat lancar atau rasio cepat (Quick Ratio atau Acid Test Ratio), dan rasio kas (Cash Ratio).

#2 Current Ratio

Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya dengan menggunakan aset lancarnya. Semakin tinggi rasio berarti akan terjamin utang perusahaan kepada kreditur. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban lancar dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki.

#3 Quick Ratio

Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya dengan menggunakan aset yang paling likuid atau aset yang paling mendekati uang tunai (aset cepat). Yang termasuk sebagai aset cepat (quick asset) adalah aset lancar yang dapat dengan cepat dikonversi menjadi uang tunai dan mendekati nilai bukunya.

#4 Cash Ratio

Digunakan untuk membandingkan total kas (tunai) dan setara kas perusahaan dengan kewajiban lancarnya. Rasio Kas ini pada dasarnya adalah penyempurnaan dari rasio cepat (quick ratio) yang digunakan untuk mengidentifikasi sejauh mana dana (kas dan setara kas) yang tersedia untuk membayar kewajiban lancarnya. Calon kreditur menggunakan rasio ini sebagai ukuran likuiditas perusahaan dan seberapa mudahnya perusahaan dapat menutupi kewajiban hutang lancarnya.

#5 Rasio Solvabiltas

Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya. Dalam rasio ini, akun yang dibandingkan adalah total hutang dengan total aset. Semakin besar nilai yang keluar maka semakin berisiko suatu perusahaan. Sebaliknya semakin kecil nilai yang muncul, semakin kecil pula risiko yang ditanggung oleh perusahaan.

#6 Debt To Asset Ratio

Mengukur seberapa besar perusahaan mengandalkan hutang untuk membiayai asetnya. Rasio Hutang ini dapat menunjukan proporsi hutang perusahaan terhadap total aset yang dimilikinya. Para Investor dapat menggunakan Rasio Hutang atau Debt Ratio ini untuk mengetahui berapa banyak hutang yang dimiliki oleh perusahaan dibandingkan dengan asetnya.

Kreditur juga dapat mengukur seberapa tinggi risiko yang diberikan kepada suatu perusahaan. Semakin tinggi rasionya, semakin besar pula risiko yang terkait dengan operasional perusahaan. Sedangkan rasio utang yang rendah mengindikasikan pembiayaan konservatif dengan kesempatan untuk meminjam di masa depan tanpa risiko yang signifikan.

#7 Debt To Equity Ratio

Menilai posisi keuangan suatu perusahaan. Rasio ini juga merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya. Rasio Debt to Equity ini merupakan rasio penting untuk diperhatikan pada saat memeriksa kesehatan keuangan perusahaan. Jika rasionya meningkat, ini artinya perusahaan dibiayai oleh kreditor (pemberi hutang) dan bukan dari sumber keuangannya sendiri yang mungkin merupakan trend yang cukup berbahaya.

Pemberi pinjaman dan Investor biasanya memilih Debt to Equity Ratio yang rendah karena kepentingan mereka lebih terlindungi jika terjadi penurunan bisnis pada perusahaan yang bersangkutan.

#8 Rasio Aktivitas

Rasio yang menggambarkan tingkat efisiensi atas pemanfaatan sumber daya yang dimiliki perusahaan, atau menilai kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Dalam rasio ini dapat diketahui perputaran piutang, persediaan, modal kerja, maupun aset tetap dalam keefektifan menghasilkan penjualan. Dengan adanya rasio ini diharapkan dapat mengambil keputusan yang tepat supaya dapat menghindari piutang macet, persedian yang over maupun menipis, serta terhadap suntikan dana untuk meningkatkan penjualan perusahaan.

#9 Receivable Turnover Ratio

Mengukur seberapa tingginya perputaran piutang. Semakin tinggi perputaran piutang maka piutang yang dapat ditagih oleh perusahaan semakin banyak. Sehingga akan memperkecil adanya piutang tak tertagih dan memperlancar arus kas.

#10 Fixed Assets Turnover Ratio

Mengukur seberapa produktif (efektif dan efisien) perusahaan menggunakan aset tetapnya untuk menghasilkan pendapatan. Semakin tinggi nilainya, menunjukan bahwa perusahaan mampu untuk mengelola aset tetapnya secara efektif dan efisien.

#11 Total Assets Turnover Ratio

Hampir sama dengan fix asset turnover ratio namun pada rasio ini lebih ditekankan pada total aset yang dimiliki baik secara likuid ataupun secara aset tetap. Semakin besar nilainya, maka semakin bagus pemanfaatan asetnya.

#12 Working Capital Turnover Ratio

Mengukur aktivitas bisnis yang dibandingkan dengan kelebihan aset lancar atas kewajiban lancar sehingga banyaknya penjualan (dalam rupiah) yang diperoleh perusahaan untuk setiap rupiah modal kerja dapat terlihat. Rasio ini juga dikatakan sebagai pengukuran kemampuan modal kerja (netto) dalam suatu periode siklus kas (cash cycle) pada suatu perusahaan yang memengaruhi pencatatan transaksi keuangan.

Modal kerja dikatakan efektif berputar dalam perusahaan selama perusahaan yang bersangkutan melakukan kegiatan operasional usaha. Periode perputaran modal kerja (working capital turn over period) dimulai dari kas diinvestasikan dalam komponen modal kerja hingga kembali menjadi kas. Semakin pendek periode tersebut berarti perputaran (turn over rate) semakin cepat.

#13 Rasio Profitabilitas

Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Dengan rasio ini dapat diketahui besaran persentase keuntungan atas penjualan.

#14 Gross Profit Margin

Digunakan untuk mengukur persentase kelebihan laba kotor terhadap penjualan. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa efisien perusahaan menggunakan bahan dan tenaga kerjanya untuk memproduksi dan menjual produknya untuk menghasilkan keuntungan.

#15 Operating Profit Margin

Digunakan untuk mengukur persentase dari profit yang diperoleh perusahaan dari tiap penjualan sebelum dikurangi dengan biaya bunga dan pajak. Pada umumnya semakin tinggi rasio ini maka semakin baik. Rasio ini digunakan untuk mengukur berapa banyak uang yang didapatkan dari setiap penjualan, sebelum pembayaran bunga pinjaman dan pajak.

#16 Net Profit Margin

Digunakan untuk mengukur persentase laba bersih terhadap penjualan bersihnya. Rasio ini menunjukan proporsi penjualan yang tersisa setelah dikurangi semua biaya terkait.

Dari artikel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan merupakan hal yang penting bagi perusahaan. Dan cara untuk membaca laporan keuangan dengan cepat dan efisien adalah dengan cara menggunakan analisis laporan keuangan. Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses untuk membedah laporan keuangan kedalam unsur-unsurnya dan menelaah masing-masing dari unsur tersebut dengan tujuan untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang baik atas laporan keuangan itu sendiri.

Demikian artikel singkat mengenai Cara Cepat dan Efisien dalam Memahami Kondisi Keuangan Perusahaan, semoga bisa memberikan sedikit pencerahan. Apabila penjelasan di atas masih kurang jelas dan ingin menanyakan permasalahan seputar keuangan, klik tombol dibawah ini sekarang untuk mengetahui informasi lengkap seputar sistem keuangan dan booking sesi konsultasi gratis dengan team kami.

Informasi Sistem Keuangan
DConsulting Team
 

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments
Top
Office SurabayaOffice JakartaInstagramFacebookYouTube