8 Hal Penting Mengapa Pihak Independen Perlu Menilai Risiko Dan Kinerja Keuangan di Perusahaan Anda

Sebelum membahas apakah perusahaan Anda membutuhkan jasa pihak independen dalam menilai risiko dan kinerja keuangan, maka alangkah baiknya Anda memahami dulu apa saja eksposur yang ada di dalam perusahaan.

Jadi, eksposur merupakan resiko yang timbul dari sumberdaya internal seperti para pekerja atau berasal dari sumber daya eksternal. Eksposur juga merupakan obyek yang rentan terhadap resiko dan berdampak pada kinerja perusahaan apabila resiko yang diprediksi benar-benar terjadi. Eksposur ini paling umum berkaitan dengan ukuran keuangan.

Berikut adalah faktor yang mempengaruhi terjadinya resiko :

  • Frekwensi > makin sering suatu kejadian dilakukan maka semakin banyak risiko yang akan terjadi. Misalnya : perusahaan  yang banyak melakukan transaksi pembelian akan berisiko salah memasukkan data transaksi pembelian.
  • Kerentanan > Makin rentan suatu aset, semakin besar risiko yang akan terjadi pada aset itu. Misalnya : kas dan persediaan sangat rentan dicuri daripada aktiva lainnya.
  • Ukuran > Semakin besar nilai moneter dari kerugian potensial , semakin besar eksposur risikonya. Misalnya : kemungkinan piutang tak tertagih.

Adapun eksposur umum yang biasanya terjadi dalam pelaksanaan sistem informasi akuntansi di perusahaan adalah:

Pendapatan yang Cacat

Contoh : Biaya terutang tidak tertagih dari penjualan kredit terlalu banyak. Barang dagangan telah dikirim ke pelanggan tetapi tidak tercatat sehingga tidak ditagih.

Kerugian Akibat Kehilangan Aktiva

Contoh: Aktiva dapat hilang sebagai akibat pencurian, tindakan kekerasan, atau bencana alam. Kas, bahan baku, atau peralatan dapat rusak atau salah penempatan.

Akuntansi yang Tidak Akurat

Contoh: Kebijakan dan prosedur akuntansi dapat salah, tidak tepat, atau secara signifikan berbeda dari yang diterima umum. Kesalahan ini dapat mencakup kesalahan penilaian transaksi, kesalahan waktu pencatatan, atau kesalahan klasifikasi transaksi.

Interupsi Bisnis

Contoh : Interupsi bisnis mencakup penghentian sementara suatu operasi bisnis, penghentian permanen atas operasi suatu bisnis, atau penutupan suatu usaha.

Sanksi Hukum

Contoh: Penghentian kegiatan bisnis bisa saja terjadi sebagai hukuman dari lembaga pemerintah jika perusahaan melakukan perbuatan yang melanggar hukum.

Ketidakmampuan untuk bersaing

Contoh: Ketidakmampuan ini dapat terjadi sebagai akibat kombinasi berbagai eksposur yang telah dibahas sebelumnya dan bisa juga sebagai akibat ketidakefektifan keputusan manajemen.

Kecurangan dan Pencurian

Contoh: Kecurangan dan pencurian dapat dilakukan oleh pihak eksternal di luar perusahaan ataupun pihak internal di dalam perusahaan. Biaya yang terlalu tinggi, pendapatan yang cacat, kehilangan aktiva, ketidakakuratan catatan akuntansi, interupsi bisnis, sanksi hukum, dan ketidakmampuan untuk bersaing, semuanya bisa saja merupakan dampak dari kecurangan dan pencurian.

8 Hal Penting Dalam Menilai Risiko dan Kinerja Oleh Pihak Independen

Pada era saat ini, untuk menambah daya saing perusahaan, maka harus dilakukan perbaikan secara terus menerus. Baik itu perbaikan standar operasional prosedur, pengendalian internal, sumber daya manusia, teknologi dan sebagainya. Akuntabilitas pencatatan harta kekayaan mestinya dibandingkan  dengan aktiva yang ada dan yang harus ditangani dengan cepat dan tepat. Dalam ini rekonsiliasi berfungsi untuk memberikan otorisasi pihak pencatat transaksi, dan pihak pengontrol kekayaan organisasi. Pada dasarnya team ahli diperlukan untuk menilai kinerja perusahaan selama ini, jangan sampai hanya pada laporan laba rugi saja analisa yang dilakukan, banyak analisa yang diperlukan untuk menilai apakah suatu perusahaan dikatakan baik atau tidak. Lalu apa yang harus dilakukan analisa? Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian perusahaan yaitu:

  • Pengendalian Otorisasi . Pengotorisasian dilakukan oleh orang yang berada diluar sistem untuk meyakinkan transaksi dimasukkan ke buku besar valid dan wajar.

 

  • Otorisasi Umum menetapkan kondisi standar untuk menyetujui dan melaksanakan transaksi. MIsalnya, manajemen menetapkan kriteria  persetujuan kredit atas penjualan.

 

  • Otorisasi Khusus berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tertentu, yang kondisi dan pihak-pihaknya ditentukan. Misalnya ketentuan tentang penandatanganan cek; dilakukan oleh kasir dan manajer keuangan. Dalam sistem manual dan sistem pemrosesan batch berbasis komputer, otorisasi tampak dalam tandatangan, inisial, stempel dalam dokumen transaksi. Apapun bentuknya, otorisasi harus diperiksa sebelum transaksi diproses. Apabila transaksi dimasukkan secara on-line, mungkin tanpa dokumen sumber,otorisasi harus segera dilakukan, misalnya dengan memasukkan kata kunci (password).

 

  • Pengendalian Input. Pengendalian input merupakan pengendalian yang dilakukan untuk mencegah kesalahan-kesalahan memasukkan data ke dalam dokumen sumber, kesalahan-kesalahan dalam penumpukan (batching), pengonversian dan pentransmisian sehingga pemrosesan data dapat dilakukan secara andal. Pengendalian input akan mampu mendeteksi kesalahan-kesalahan seperti catatan waktu karyawan, kesalahan memasukkan nomor pelanggan dalam faktur, dll. Pengendalian input sangat perlu mendapat perhatian dalam pemrosesan langsung atau online karena kesalahan akan cepat menyebar dan sulit untuk diketahui. Pengendalian input dapat dikelompokkan atas tahap-tahap: Pencatatan transaksi, penumpukan data transaksi,pengkonversian data transaksi, dan pengeditan data transaksi dan transmisi data transaksi.

 

  • Pengendalian Pemrosesan . Pengendalian  atas pemrosesan transaksi harus meyakinkan bahwa data telah diproses secara akurat dan secara lengkap, tidak ada transaksi yang belum diotorisasi dimasukkan,program dan file dimasukkan dalam transaksi, dan seluruh transaksi dengan mudah bisa ditelusuri. Pengendalian pemrosesan dapat dikelompokkan atas cek silang manual, pengecekan logika pemprosesan, pengendalian run-to-run, pengecekan perubahan file dan program, kaitan jejak audit.

 

  • Pengendalian Output. Suatu pengendalian yang dirancang untuk memastikan bahwa input dan proses  yang telah dijalankan menghasilkan output yang valid dan tepat. Pengendalian output dapat dikelompokkkan antara lain : rekonsiliasi, aging, suspense file, suspense account, audit secara periodik, discrepancy report, upstream resubmission.

 

  • Teknik Analitik. Kuesioner pengendalian internal merupakan salah satu teknik analitik yang lazim digunakan untuk menganalisis pengendalian internal. Kuesioner pengendalian internal secara tradisional menjadi elemen utama dalam suatu program audit. Kuesioner basanya dirancang sedemikian rupa sehingga jawaban positif mengindikasikan  adanya pengendalian internal yang baik, dan jawaban negatif berarti adanya kelemahan dalam pengendalian internal.Analisis Proses Pengendalian Internal. Analisis proses pengendalian internal memerlukan pemahaman mengenai proses pada saat proses tersebut dirancang serta pada saat proses tersebut telah dijalankan. Proses aktual bisa sesuai atau tidak  sesuai dengan ekspektasi. Dokumentasi bisa saja tidak lagi sesuai, dan struktur bisa saja beroperasi menurut prosedur yang baru. Prosedur bisa saja diubah secara informal untuk disesuaikan dengan kondisi yang tidak diketahui pada saat sistem dirancang dan didokumentasikan.

 

Sekian artikel yang dapat kita bahas kali ini, untuk kesimpulan dari artikel di atas adalah ada hal – hal yang perlu untuk diperhatikan pada saat tim independen melakukan penilaian risiko dan kinerja dalam perusahaan Anda. Apabila ada yang ingin ditanyakan atau ada yang kurang jelas terkait dengan artikel diatas, bisa langsung klik tombol dibawah ini sekarang untuk mengetahui gambaran jelas mengenai permasalahan seputar bisnis dan manajemen dan booking sesi konsultasi gratis dengan tim kami sekarang juga.

Klik Untuk Konsultasi Lebih Lanjut Dengan Kami
DConsulting Team
 

Click Here to Leave a Comment Below 0 comments
Top
Jakarta OfficeSurabaya OfficeInstagramFacebookYouTube